Image

…..

 


Image

Advertisements

Gamer.

Awal Semula
Semua dimulai ketika aku masih kecil.Saat itu aku sedang berjalan – jalan disekitar rumahku.Berputar – putar mengelilingi berbagai tempat yang ada didalamnya seperti dapur , gudang , teras , kamar dan bahkan kamar mandi.Bisa dibilang pada saat aku kecil memang aku tidak bisa diam.Pada waktu itu aku yang masih baru bersekolah di Sekolah Dasar (SD) aku mendapatkan berbagai macam pelajaran seperti misalnya belajar menghitung , menulis macam – macam kata hingga diajarkan cara membaca dan baik dan benar.Dan di saat itu juga, aku mendapatkan Home Entertainment Game System untuk pertama kalinya bernamakan Sega Genesis.Masih santer terdengar di telingaku, sewaktu itu ayahku berkata padaku “Nih Sega!coba masukin kasetnya ke sana, trs nyalain.”Ayahku yang bersimbah keringat sambil berkata padaku”.Dan langsung diwaktu itu pula ku memainkan game yang ternyata tidak kuduga akan menjadi iconic dan tentunya menjadi maskot sekaligus permainan kegemaranku , yaitu Sonic The Hedgehog.Dimana terkadang disaat jam pelajaran sedang berlangsung aku teringat akan permainan digital yang sangat adiktif itu, membuat ku mencari teman yang serupa.Dan ternyata bukanlah hal yang sulit, memang ada beberapa orang dikelasku yang turut memiliki game tersebut serta memainkannya  dengan cara yang berbeda – beda.

Spontan disela – sela waktu belajar mengajar didalam kelas, aku beserta teman – temanku yang lainnya heboh serta kegirangan membicarakan topik dengan game yang sama.Ada yang kesulitan saat bermain di tempat ini dan itu,musuh yang agak susah untuk dihadapi, hingga kebingungan antar pemain yang selalu hangat dibicarakan mengenai permainannya pada kala itu.Aku pun pernah dimarahi guru karena tidak memperhatikan apa yg guruku terangkan dan juga karena nada bicaraku yang terlalu keras.Namun teman – temanku tidak mempedulikannya dan tetap melanjutkan obrolannya denganku.Membuat sekolah semakin asik karena bisa saling sharing pengalaman bermain game, juga game yang kala kumainkan itu pun semakin menarik dan akupun ingin bersaing menjadi yang paling jago diantara mereka. Pinjam – meminjam kaset sampai lupa waktu pun tek terhindarkan karena asiknya bermain video game, baik itu sendiri maupun bersama teman – teman.

Hingga memasuki era tahun 2000, lambat laun game yang senantiasa kumainkan dengan feature 16-bit tersebut lama – lama tenggelam sejalan dengan arus teknologi yang berkembang.Dan disaat itu juga aku mendapat video gameplaystation”.
Tak Bisa Lepas
Aku sedang menempuh pendidikan ditingkat SMP saat dengan video game ku yang baru playstation.Memiliki beberapa keunggulan dibandingkan konsol generasi – generasi sebelumnya.Yang terlihat mencolok adalah dizaman yang disaat itu menggunakan Compact Disk (CD) dan kualitas gambar yang meningkat dan fitur – fitur andalan lainnya.Membuat para kalangan muda termasuk diriku ini terbius akan game – game yang akan membuatku ketagihan.Tempo waktu permaikan yang jauh semakin panjang membuat benar – benar lupa waktu.Semisal game yang kumainkan berjudul Megaman Legends, berbulan – bulan aku memainkannya karena permainannya yang sangat mengasyikan.Permainan yang menceritakan kita menjelajah dunia dan berpetualang dengan robot berwarna biru ini tepatnya telah membuatku “lupa diri”.

Lupa?yakin lupa diri?
Ga inget sama diri sendiri??

PR atau yang lebih dikenal dengan Pekerjaan Rumah ku terbengkalai begitu saja,makan dan mandipun jarang, berkomunikasi satu sama dengan yang lainnya pun apalagi.Saat itu aku sangat fokus dengan waktu permainanku.Kapanpun dan bagaimanapun caranya aku harus bisa untuk menyempatkan diri setidaknya dan sekurang – kurangnya 2 jam untuk melanjutakan permainanku.Sekolahku pun hanya begitu – begitu saja disetiap harinya.Aku cuma berpura – pura memperhatikan guru yang sedang menerangkan.Tapi disisi lain setiap tes lisan aku mendapat nilai yang memuaskan.Aku masih ingat nilai sejarahku 85, padahal yang lainnya hanya mendapat nilai yang biasa – biasa saja kisaran 60 atau 75.Sepertinya daya ingatku bertambah.Namun disisi lain, sesuatu hal yang tak pernah aku duga sebelumnya terjadi padaku.

 

 

Dampak Nyata Dari “Berlebihan”
Posisi duduk yang kugunakan bila saat bermain game adalah sila (duduk sila).Memang aku menyadari sebelumnya bila kedua kakiku agak pegal – pegal dan nyeri yang amat sangat bila bermain terlalu lama.Efeknya baru akan terasa apabila pergi ke sekolah.Biasanya aku bermain game sampai larut malam lalu setelah itu tertidur.Pas sedikit demi sedikit berdiri dari tempat tidur rasanya sakit, terasa begitu nyeri dibagian kaki.Waktu sekolah itu terkadang amat menyiksa dengan membawa kedua kakiku yang amat pegal ini.Yang kutunggu hanyalah bel istirahat dan bel pulang saja.Tetap saja meski sesaat terpikir untuk berisitirahat ketika sudah sampai rumah nanti untuh memulihkan keadaan kakiku seperti semula, namun nyatanya aku tetap melanjutkan untuk bermain game lagi pada akhirnya.

Kejadian itu bermula saat aku sedang tengah bermain game.Masih dengan posisi duduk yang sama, tiba – tiba kaki kiriku terasa tidak seperti biasanya.Saat aku mencoba turun tangga ke bawah rumah, tiba – tiba yang aku rasakan kaki kiriku seperti terkilir.aku coba mengisitirahatkan diriku sejenak dengan cara meluruskan kedua kakiku.Namun ketika aku mencoba kembali kekamarku lagi dengan berjalan menaiki tangga pertama, kakiku dengan sendirinya berbelok ke arah kiri, tertekuk atau “bengkok”.Sontak aku menjadi perhatian ibu dan ayahku.Rasa perih yang tak terbayangkan saat itu yang membuat aku sendiri bingung entah mengapa bisa terjadi pada kaki kiriku.

Sekitar 2 sampai 3 hari kaki kiriku ini membutuhkan perawatan medis.Aku sempat dibawa ke dokter, namun dokter biasa ku menyarankan agar aku dibawa ke spesialis supaya bisa lebih di teliti apa dan bagaimana bisa kaki kiriku menjadi bengkok dan sakit seperti ini.Dan akhirnya aku pun dibawa kesana..

Sesampainya di tempat tujuan, sangat banyak orang yang mengantri.Bahkan beberapa diantaranya masih besimbah darah dan aku pun terheran – heran mengapa orang – orang disini mau mengantri padahal tempatnya saja seperti rumah – rumah pada umumnya, tergolong standar.Akupun sempat bertanya pada ibuku mengenai tempat yang banyak orang kunjungi ini.Ternyata aku bukan dibawa ke dokter spesialis, melainkan tabib.Lama mengantri dan tibalah giliranku masuk ke kamar yang terlihat ada noda serta bercak darah di lantai.Mengerikan memang.

Pertama – tama tabib menanyakan apa yang kurasakan dan tentunya bertanya kenapa bisa sampai seperti ini.Dengan spontan tabib tersebut tiba – tiba mengulurkan tangannya pada kaki kiriku dan dengan metode penyembuhan yang sama sekali tidak aku bayangkan sebelumnya, tabib itu dengan tanganya yang kasar “membengkokan” kakiku ke arah seblaiknya agar menjadi normal kembali.Sontak aku merasa kesakitan yang teramat sangat dan juga berteriak kencang membuat seisi ruangan serta orang – orang yang berada disekitar tempat tersebut kaget.Setelah di bengkokan, kaki kiri tersebut diberi perban serta kayu untuk mengganjal kakinya agar tidak tertekuk lagi.Sambil memanjatkan doa – doa dengan ayat sucinya, tabib tersebut menyarankan diriku untuk beristirahat penuh sesampainya dirumah nanti supaya kondisiku bisa pulih secepatnya.

Sesudah diobati, tabib yang bebricara dengan nada rendah hati pun sama sekali tidak meminta bayaran apapun.”Jadi berapa pak semuanya?”ibuku yang bertanya sambil tersenyum.Dan dengan jawabanynya yang menurutku agak aneh tabib itu menjawab “seikhlasnya saja”.Ibuku pun memberi amplop berisi uang yang aku tak tahu berapa yang ibuku berikan.Setelah keluar dari ruangan pasien dan izin pamit dari tabib, kamipun pulang dengan tentunya harapan kondisiku bisa terus membaik.

 

 

Lebih “Mawas”  Diri
Sesampainya dirumah, akupun langsung beristirahat dan tetap melanjutkan berbagai macam aktivitasku seperti biasa, termasuk sekolah.Disekolah inilah tantangan baru muncul.Kaki kiriku tidak bisa digerakan juga terasa amat sakit, aku berjalan layaknya orang pincang pada saat itu.Teman – temanku kadang ada yang membantu untuk berjalan.Sekolahku yang memiliki  3 lantai menjadi tantangan tersendiri waktu itu, berjalan menjadi sangat lelah untuk naik dan turun.Kebetulan kelasku berada di lantai 3 tepatnya berada di ujung lorong, belum lagi aku memiliki penyakit asma yang saat itu pernah kambuh disaat aku pincang.Panik memang, namun itu semua berakhir dalam kurun waktu 1 bulan.Sedikit demi sedikit mulai bisa digerakan..

Meski sudah menempuh pendidikan SMA dan hingga saat ini aku kuliah, kebiasaan ku ber main game tidak bisa kupungkiri lagi memang banyak menghabiska banyak waktuku.Entah ini menjadi kebiasaan yang sulit untuk kuhindari.Dan sampai sekarang aku belajar dari pengalamanku yang dulunya sempat menjadi “freak gamer”  saat aku SMP itu menjadi pengalaman yang benar – benar tak dapat kulupakan.

Seperti pepatah yang banyak orang tua katakan “segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik” memang ada benarnya.Kuakui memang pada saat aku tergila – gila akan permainan orang tuaku sempat mengatakan seperti itu, namun aku tidak menghiraukan perkataanya.Cukup yang kukatakan pada kala itu hanya iya dan iya saja sambil menganggukan kepalaku.Dimana semua mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing – masing, juga hal yang terlalu berlebihan itu memang nyatanya tidak baik.

 

“ Pengalaman adalah guru yang terbaik”
Apa yang kamu tanam akan kamu petik buahnya pada nantinya..

 

Sampai sekarang aku tetap mencoba instropeksi diri agar tidak terjadi hal  yang tak kuningingkan kembali terjadi lagi.Juga tentunya lebih “mawas” diri  🙂

Image

Langkah Maju Untuk Indonesia Baru :
STOP IMPOR!

 

Makanan Dalam Negeri, Asal Luar Negeri
Tulisan ini dibuat ketika saya melihat iklan ditelevisi yang dibuat oleh salah satu kubu partai yang lagi tekenal pamornya karena tokohnya yang sedang terkenal saat ini.Dimana dalam iklan tersebut memperlihatkan nasi tumpeng yang penuh dengan lauk – pauknya yang terlihat menggiurkan.Namun yang menjadi pembicaraan banyak masyarakat bukanlah pada warna dan cita rasa makanan yang terlihat menggiurkan, tetapi menggambarkan kepada darimana “asal” makanan tersebut didapat.Misalnya beras yang kita makan sehari – hari konsumsi berasal dari vietnam, daging ayam yang asalnya dari Malaysia, tempe – tempe kedelai yang asal – muasalnya dari Amerika, kentang pada sambal gorengnya dari Australia, juga didalam semur daging sapinya,yang notabene diiklan tersebut berasal dari Australia juga.

Sempat menjadi topik yang hangat dikalangan publik, baik di masyarakat langsung maupun di sosial media.Ada beberapa orang yang bilang, lebih baik tempe impor ketimbang beli buatan lokal.Karena kualitas dan rasa yang berbeda, juga harga yang terasa mencolok.Bahkan ada beberapa makanan produk impor yang lebih murah ketimbang produk lokal, misalnya buah – buahan pada apel yang sempat saya lihat di televisi.Tentu para masyarakat lebih memilih produk impor yang dirasa karena lebih menjaga kualitas dan rasa yang “khas” dan juga lebih murah ketimbang harus membeli produk lokal yang lebih mahal, terkadang juga harga tidak jauh berbeda dari harga apel lokal.Apel serta barang – barang impor lainnya menjadi saingan terberat didalam pasar lokal kita.

 

 

 

Kita “BISA!”
Kini saatnya #IndonesiaMoveOn dari berbagai macam serangan produk – produk impor, membuat bagaimana caranya supaya sebagian masyarakat besar bisa kembali mempercayai produk lokal dan juga tentunya memanfaatkan SDM (Sumber Daya Manusia) secara maksimal.Disisi lain, negara Indonesia sudah sangat terkenal dengan negara “pemakai” karena negara kita hanya bisa memakai dan menggunakan saja.Alasan ini pun sudah sangat jelas menguatkan kita dengan berbagai macam barang elektronik yang masyarakat kita pakai.Sebagian besar memakai produk besutan luar negeri, entah itu ponsel ataupun dibidang entertainment.Kawasan diwilayah Asia Tenggara khususnya Indonesia, telah mengalami penjualan sales untuk perangkat genggamnya.Kebanyakan masyarakat kita membelanjakan uangnya untuk kepentingan pribadi mereka, seperti misalnya membeli barang – barang elektronik khususnya.Ini terbukti dari berbagai macam survey yang diadakan oleh berbagai media.Disebutkan juga dalam beberapa media online bahwa Indonesia paling konsumtif untuk urusan belanja gadget elektronik.

Sebenarnya Indonesia mampu serta bukanlah hal yang sulit untuk kembali memproduksi bahan – bahan pangan di negeri kita tercinta ini.Sawah yang melimpah dengan tanah yang luas membuat produksi padi kita semakin hari semakin bertambah, perkebunan sayuran yang banyak dan penghasil buah – buahan.Nilai konsumsi rakyat Indonesia yang setiap harinya juga semakin tumbuh setiap tahunnya membaut bilai tersendiri bagi para produsen lokal untuk unjuk gigi dengan produk impor, meski harus sulit bersaing dengan produk yang ada dipasaran selama ini.Tentu sebenarnya masyarakat ataupun orang – orang disekitar saya termasuk #DompetDhuafa sudah pasti mengetahui produk – produk apa saja yang dijual dipasaran yang dapat kita temui.Seperti misalnya buah – buahan apel.Saya sendiri sering memakan buah ini karena baik untuk kesehatan.Namun apabila saya serta ayah saya kembali untuk melihat – lihat di supermarket, sangatlah jelas buah apel  “mana” yang hanya dapat kita temui.Buah yang terlihat mengkilap tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon pembeli.Menjadi keuntungan bagi para pengimpor buah dipasaran.Tetapi apabila kita melihat lagi dan memeriksa ulang kondisi buah tersebut, buah yang dibeli banyak orang itu karena penampilannya yang baik tersebut tidaklah baik.Karena warna merah yang terang itu merupakan hasil dari zat kimia maupun pestisida, terutama bahan pengawet kurang baik untuk kesehatan.Terlihat dengan mata telanjang, apel lokal dan apel impor untuk menarik daya konsumen dengan jelas seperti apa.Sedangkan apel dengan kualitas lokal, tentu terlihat dengan “apa adanya”.Kadang pada kulit apelnya ada juga yang kulitnya sudah terkelupas , tapi semua itu adalah proses alami dan tidak ada unsur zat kimia.Memang untuk sebagian orang ada yang memilih untuk membeli buah di supermarket ataupun cenderung lebih memilih dipasar.Karena mereka punya alasan subyektif yang kembali kepada diri mereka masing – masing.Tapi inilah contoh salah satu  dari sekian banyaknya produk impor, memang terlihat menarik namun tidaklah semuanya baik.Patut kita cermati bersama..

Tentu, Indonesia dapat menjadi negara pengekspor dan tidak hanya menjadi pengimpor saja seperti yang selama ini kita lihat.Dengan beberapa langkah dan menerapkan aturan yang nyata.Seperti misalnya sedikit demi sedikit menghentikan datangnya produk impor yang akan datang nantinya ke pasaran.Memang bila dilihat – lihat atau kita tinjau ulang kembali, terkadang produk lokal sedikit lebih mahal ketimbang produk impor yang notabene kita lebih hargai.Namun dengan menerapkan cara seperti ini, waktu ke waktu masyarakat pun pasti bisa menerima.Dengan begitu, pendapatan tentu akan masuk lebih besar ke pasar lokal.Atau juga bisa dengan cara memberi jumlah “batas” barang mana  yang akan di pasarkan nantinya.Dimana barang impor memiliki ruang yang sedikit, agar pasar lokal diberi kebebasan untuk mendapatkan ruang yang luas.

Memang pada kenyataanya impor adalah sesuatu yang mustahil, kalau kita tidak impor minyak, salah satu media membeberkan bahwa minyak mentah milik kita akan habis dikonsumsi hanya dalam waktu kurun 4 hari.Sumber daya alam milik kita memang sangat kaya, namun yang mengolah dan memiliki itu semua bukan lah Indonesia sendiri.. Turut prihatin memang.. , tapi tetap tidak ada yang tidak mungkin.Sebisa mungkin kita seharusnya bisa menghentikan impor dan mulai ekspor apa yang kita bisa.Dengan begitu para petani, pedagan pasar, juga yang lainnya bisa menikmati hasil jerih payah mereka.Tidak hanya kita yang menikmati hasil mereka, namun seyogyanya mereka juga turut mendapat kehidupan yang layak dari hasil usaha mereka..

Kalau kita yakin, pasti kita bisa!
Kita bisa, karena biasa
🙂